NU Dukung Menteri Nadiem Perangi Intoleransi, Bullying, dan Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan

- Kamis, 20 Januari 2022 | 21:42 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menerima kunjungan dari Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim di kantor PBNU, Jakarta Pusat   (NU Online/ Syifa)
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menerima kunjungan dari Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim di kantor PBNU, Jakarta Pusat (NU Online/ Syifa)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Jakarta. Upaya Nadiem Makarim, Menteri Dikbudristek, memerangi intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual mendapat dukungan dari Nahdlatul Ulama (NU).

Dukungan itu ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menerima kunjungan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Januari 2022.

NU akan mendukung penuh kampanye Kemendikbudristek terkait tiga ‘dosa besar’ di dunia pendidikan tersebut,” ujar KH Yahya Cholil Staquf yang akrab dipanggil Gus Yahya.

Baca Juga: TV Digital akan Diterapkan, KPI Awasi Kontennya dengan Artificial Intelligence

Lebih lanjut Gus Yahya menjelaskan upaya kemedikbudristek tersebut harus didukung lantaran intoleransi, bullyng dan kekerasan seksual sudah terjadi sejak lama di dunia pendidikan.

“Itu merupakan salah satu hal yang menarik. Dan kami sepakat terhadap kampanye Kemendikbudristek dalam melawan perilaku-perilaku tidak layak di dunia pendidikan, yang berfokus pada perilaku intoleran, pelecehan seksual, dan perundungan,” ucap Gus Yahya.

Hal-hal tersebut, kata Gus Yahya, juga tidak dapat ditampik, karena kenyataannya memang banyak terjadi di lingkungan pendidikan. PBNU dan Kemendikbudristek bersinergi dalam melawan itu semua.

“Pertama, harus kita akui bahwa itu semua ada termasuk di lembaga-lembaga pendidikan NU. Kedua, ini memang harus kita lawan, dan NU akan mendukung penuh upaya itu,” ujarnya.

Dikutip dari NU Online, data menunjukkan dunia pendidikan masih diwarnai kasus intoleransi, perundungn, dan kekerasan seksual. Berikut ini disajikan kupasannya. 

Ancaman intoleransi di sekolah
Dalam penelitian Wahid Foundation, gejala intoleransi dan radikalisme di dunia pendidikan terus meningkat. Dari hasil survei dilaporkan, pada tahun 2018 sebanyak 64,25 persen dari 923 pengurus Rohis sekolah setuju bahwa siswa Muslim dilarang memilih pemimpin dari kalangan non-Muslim.

Beberapa dari banyak kasus intoleransi ini sangat bertentangan dengan pasal 4 Bab 3 UU Nomor 20 tahun 2003 karena secara prinsip penyelenggaraannya pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Baca Juga: Gus Yahya : NU Optimalkan Teknologi Informasi untuk Dakwah dan Pendidikan

Kasus perundungan (bullying) meningkat
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa sepanjang 2011-2019 kasus perundungan di lingkungan pendidikan dan media sosial mencapai 2.473 kasus dan trennya terus mengalami peningkatan.

Sementara data hasil riset Programme for International Students Assessment (PISA) 2018 menunjukkan 41,1 persen murid mengaku pernah mengalami bullying. Mirisnya, Indonesia bertengger di posisi kelima tertinggi dari 78 negara sebagai negara yang siswanya paling banyak mengalami perundungan.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: NU Online

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X