Rumusan Kompetensi dalam Kurikulum Perguruan Tinggi Masih Keliru

- Selasa, 30 November 2021 | 17:37 WIB
Edi Subkhan Pakar Pendidikan Unnes (FB)
Edi Subkhan Pakar Pendidikan Unnes (FB)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Semarang. Rumusan kompetensi di perguruan tinggi selama ini masih keliru. Pasalnya penilaian kompetensi kerap dilakukan terpisah-pisah antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Penilaian itu disampaikan Dr Edi Subkhan, Pakar Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Pendapat itu disampaikan Dr Edi Subkhan di status FB akun pribadinya pada Selasa, 30 November 2021.

Menurut Edi, kekeliruan itu baru ketahuan manakala program studi (prodi) suatu lembaga perguruan tinggi mengajukan akreditasi internasional. Di saat itulah perguruan tinggi itu kerepotan untuk memenuhi tahapan-tahapan akreditasi internasional.

"Seperti dalam hal ini kasusnya di AQAS, yakni akreditasi untuk dibilang setaralah dengan penyelenggaraan program studi di Eropa," ujar Edi.

Lebih lanjut Edi menjelaskan, dalam pengertian umum tentang kompetensi tidak ada ceritanya kompetensi dibagi tiga, dan diukur secara terpisah-pisah. Apalagi ketiga-tiganya diukur melalui asesmen yang berbeda-beda.

Menurut Edi bahwa selama ini apa yang dilakukan oleh prodi adalah "mengkreasi" lagi dengan memerasnya secara paksa menjadi sesuai pengertian kompetensi ala AQAS.

"Mengapa di perguruan tinggi dan sekolah kita kompetensi dibagi 3? Barangkali terkait dominasi konsep domain pembelajaran Bloom dan kawan-kawan," ungkap Edi.

Kemudian ia menyayangkan rumusan kompetensi yang dibagi tiga itu dipakai oleh pemegang otoritas regulasi.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X