Hari Santri Nasional : Tantangan Pondok Pesantren di Era Digitalisasi, Begini Dawuh Gus Ubed

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:02 WIB
Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shodaqoh (tangkapan layar you tube NU online)
Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shodaqoh (tangkapan layar you tube NU online)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN- Hari Santri Nasional adalah bentuk pengakuan negara atas kiprah pondok pesantren dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara salah satunya di bidang pendidikan. Bagaimana pola pendidikan pesantren menghadapi tantangan di era digital saat ini. Berikut ini pemikiran Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH Ubaidillah yang dikutip dari Chanel You Tube NU Online pada 22 Oktober 2021.

Sistem pendidikan merupakan suatu strategi yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan dari pembelajaran. Sedangkan sistem pendidikan di pondok pesantren begitu luas yang lahir bahkan sebelum adanya NKRI. Pondok Pesantren juga hadir sebagai perintis dari kemerdekaan RI. Mengingat membela tanah air termasuk dalam jihad fii sabilillah.

Pondok pesantren mengajarkan kepada para santri terkait pokok-pokok pembelajaran yang nantinya menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan dalam berbagai situasi dan kondisi.Pembelajaran di ponpes ini juga dapat dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada era digitalisasi yang semakin berkembang ini pondok pesantren dituntut untuk dapat menyesuaikan perkembangan yang ada. Salah satunya yakni dengan pengaktualisasian pembelajaran-pembelajaran dan kitab-kitab turats dalam kehidupan sehari-haribaik secara menasional maupun internasional.

Dalam dunia ponpes yang ditonjolkan yakni akhlak dan budi pekerti para santri. Ilmu dan amal adalah sesuatu hal yang tak dapat dipisahkan dalam pendidikan di pondok pesantren.

Kualitas dan ketekunan para santri yang menjadi tantangan bagi ponpes terutama di era digitalisasi seperti sekarang ini. Misalnya, belajarnya satu jam, lihat-lihat internet atau di luar pelajaran itu bisa sampai tiga empat jam.

Ketika kefokusan dalam belajar terpecah sehingga beralih kepada hiburan lainnya. Seperti saat sedang belajar menggunakan gadget baru beberapa menit sudah dihentikan dan malah membuka akun sosial media.

Menyikapi hal di atas, KH Ubaidillah Shodaqoh atau yang akrab disapa Gus Ubed juga berpendapat, “Sebenarnya di era digitalisasi ini lebih memudahkan para santri dalam pembelajaran seperti dalam belajar kitab yang dapat dilakukan melalui gadget. Namun dengan kemudahan-kemudahan yang ada malah terkadang membuat para santri teledor, nah ini yg menjadi masalah.”

Sebenarnya bukan perkara sulit untuk untuk mendigitalisasi atau memodernkan cara belajar.
“Di era digitalisasi dan informasi ini justru menjadi peluang tersendiri bagi pondok untuk bisa menyebarkan konten-konten yang diambil dari nilai-nilai kepesantrenan,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X