Ketika Hakim Menjatuhkan Keadilan Atas Ketamakan Si Kaya kepada Si Miskin

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 17:20 WIB
Ilustrasi lentera (Tangkapan layar you tube)
Ilustrasi lentera (Tangkapan layar you tube)

 

KONTEMPLASI - Ribut Wahyudi *

SI KAYA, SI MISKIN DAN HAKIM YANG BIJAKSANA

Syahdan seorang Miskin hidup berdampingan dengan Si Kaya.

Meskipun tidak punya apa-apa Si Miskin merasa cukup dan hidupnya bahagia. Sementara Si Kaya selalu ingin mengganggu kehidupannya: pelit, kasar, dan selalu ingin tahu.

Suatu hari, Si Kaya mengadakan pesta besar di rumahnya, tetapi tidak mengundang Si Miskin. Dia memasak banyak makanan lezat hingga menimbulkan aroma kelezatan yang menyengat.

Bukannya mengirim makanan, Si Kaya justru jengkel setelah melihat Si Miskin duduk di halaman rumahnya sendiri, sembari menghirup aroma masakan yang keluar dari dapurnya.

"Kurang ajar, dasar miskin sialan, dia harus membayar kenikmatan yang telah dia nikmati itu!" pekik Si Kaya. Keesokan harinya Si Kaya menyeret Si Miskin ke hadapan Hakim, dan menceritakan peristiwa tadi malam untuk meminta keadilan.

"Hai Si Miskin, benarkah kamu menikmati aroma kelezatan makanan yang keluar dari dapur dia?" tanya Hakim.

Si Miskin mengangguk, "Betul Pak Hakim." "Baiklah, kalian berdua besok ke sini lagi, aku akan berikan keadilan," kata Hakim.

Si Kaya tersenyum puas seolah menang, dia menatap sinis Si Miskin sementara Si Miskin tampak gemetar ketakutan.

Setelah Si Kaya keluar ruangan, Hakim mendekati Si Miskin dan membisikkan sesuatu. Si Miskin mengangguk lalu pulang.

Keesokan harinya di jam yang sama, banyak warga datang ke pengadilan untuk menyimak keadilan apa yang hendak diberikan Hakim. Mereka sangat ingin tahu karena membenci perilaku Si Kaya yang pelit dan jahat.

Di ruang sidang, tampak Si Miskin dan Si Kaya duduk bersebelahan. Di pangkuan Si Miskin menggenggam satu kotak besar.

"Kotak apa itu?" tanya Hakim.

"Ini kotak hartaku satu-satunya. Semua uangku ada di dalam kotak ini," jawab Si Miskin. "Baiklah," kata Hakim, "sekarang goyang-goyang kotakmu itu."

Si Miskin menurut, bunyi gemerincing uang koin terdengar di seluruh ruang sidang. Si Kaya terlihat senang sekali.

"Apakah kamu senang dengan bunyi koin-koin itu?" tanya Hakim.

"Ya, Pak Hakim," jawab Si Kaya.

Hakim menyuruh Si Miskin menggoyang kotak koinnya lagi hingga terdengar bunyi gemerincing agak lama.

"Kamu suka bunyi uang koin itu?" tanya Hakim pada Si Kaya.

Si Kaya menganguk dan wajahnya terlihat berbinar! Dia membayangkan akan mendapatkan uang itu.

"Jadi ini keadilan yang kuberikan: hei kamu Kaya, tetangga Miskin-mu ini telah membayar kerugian yang kau derita. Aroma kenikmatan masakanmu telah dia bayar dengan kenikmatanmu mendengarkan gemerincing uang darinya. Jadi kalian sudah impas!" kata Hakim.

Semua warga di ruang sidang bertepuk tangan! Semoga cerita yang aku kisahkan ini bermanfaat.

* Penulis direktur di www.indoliterasi.com

Halaman:
1
2
3

Editor: Haryoto Bramantyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X