Kurikulum Nilai Nasionalisme, Cegah Pelencengan Terhadap Nilai-Nilai Pendidikan

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:05 WIB
Sejumlah narasumber menghadiri kegiatan penguatan nilai kepahlawanan dan keperintisan Dinsos Jateng di Hotel Quest Semarang, Selasa (12/10) (suaramerdeka.com)
Sejumlah narasumber menghadiri kegiatan penguatan nilai kepahlawanan dan keperintisan Dinsos Jateng di Hotel Quest Semarang, Selasa (12/10) (suaramerdeka.com)

 

SUARA MERDEKA PEKALONGAN- Pelencengan terhadap nilai-nilai pendidikan acap kali terjadi terutama pada kalangan generasi muda saat ini. Hal ini menunjukkan adanya pemerosotan nilai nasionalisme yang seharusnya tertanam dan mengakar kuat pada diri generasi muda. Disinilah peran tenaga kependidikan begitu teramat dibutuhkan. Tenaga pendidik dituntut untuk senantiasa bersikap awas.

Pendidikan saat ini lebih berpusat kepada aspek kognitif, kata Dr. Agus Sutono, Akademisi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) pada kegiatan yang digelar Dinsos Jateng bertema Penguatan Nilai Kepahlawanan dan Keperintisan Melalui Guru dan Tokoh Masyarakat bertempat di Hotel Quest Semarang, 12 Oktober 2021, seperti dilansir dari Suaramerdeka.com.

Aspek yang diterapkan dalam sebuah pendidikan sangat penting terutama sebagai proses sosial dan interaksi sosial.
Tak dipungkiri aspek kognitif memang memberikan dampak positif disatu sisi, namun sayangnya beberapa mata pelajaran lainnya justru dikesampingkan begitu saja. Yang mana termasuk mata pelajaran yang sebenarnya esensial untuk memenuhi nilai nasionalisme seperti dalam meningkatkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Agus juga memberikan contoh seperti pada mapel Pendidikan Kewarganegaraan yang tidak termasuk dalam indikator kognitif sehingga tidak tercatat sebagai mapel inti.

Kondisi pelencengan terhadap nilai-nilai pendidikan lainnya dapat ditengok pada kasus netizen Indonesia yang digadang-gadang sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara.
Netizen di Indonesia yang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda dinilai minim akan keilmuan sehingga secara frontal memberikan komentar tanpa dalil yang jelas. Tak hanya itu, netizen Indonesia juga terkenal kurangnya tata krama dalam bersosial media.

Hal ini sungguh nampak memprihatinkan. Pasalnya, akhlak para generasi muda sudah begitu melenceng dari nilai-nilai pendidikan yang seharusnya. Lantaran pendidikan menjadi suatu bentuk upaya penanaman nilai-nilai budaya termasuk nilai nasionalisme yang semestinya menjadi pegangan bagi setiap masyarakat.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan wadah untuk nilai nasionalisme agar ikut serta termaktub dalam kurikulum. Dengan ini pembelajaran dapat dilakukan dua arah.

Dari praktik, teori, habituasi (pembiasaan), selebrasi dan sosialisasi semuanya masuk. Sementara itu, Dr. Alamsyah selaku Akademisi Universitas Diponegoro mengatakan sebagaimana keimanan seseorang yang terkadang pasang surut demikian juga dengan rasa kebangsaan. Maka dalam hal ini posisi tenaga kependidikan begitu penting. Perlunya penanaman cinta akan tanah air baik pada dasar negara, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

Seorang pendidik dapat menguatkan kebangsaan melalui nilai nasionalisme yang diterapkan secara konsisten pada anak-anak. Sehingga mereka tak hanya menjadi kaum intelektual yang baik namun juga memiliki jiwa nasionalisme yang kuat.
"Nilai kepahlawanan (nasionalisme) dan keperintisan melalui tenaga kependidikan dan tokoh masyarakat sebagai pengingat akan hakikat peran dari para pendidik, tokoh masyarakat dan para generasi muda," kata Deni Riyadi selaku Kabid Pemberdayaan Sosial Dinsos Jateng yang membacakan sambutan Harso Susilo, Kepala Dinsos Jateng.

Ditengah merebaknya budaya asing yang masuk, maka sangatlah penting penanaman terhadap nilai-nilai nasionalisme agar para generasi muda tak kehilangan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia.***

 Artikel ini telah dimuat di suaramerdeka.com dengan judul: Awas, Terjadi Pergeseran Nilai Pendidikan, Urgen Nilai Kepahlawanan

Halaman:

Editor: Agus Mukti

Sumber: suaramerdeka.com

Tags

Terkini

X