Melihat Prestasi Atlet Difabel menuju Paralimpiade Paris 2024

- Rabu, 17 November 2021 | 16:39 WIB
Pebulu tangkis Jawa Barat Hijrah Yanti (kiri) bersalaman tos dengan pebulu tangkis Jawa Barat Sri Maryati usai final bulu tangkis putri klasifikasi WH 1 Peparnas Papua di Gor Cendrawasih, Jayapura, Papua, Sabtu (13/11/2021). (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI via redaksi nasional)
Pebulu tangkis Jawa Barat Hijrah Yanti (kiri) bersalaman tos dengan pebulu tangkis Jawa Barat Sri Maryati usai final bulu tangkis putri klasifikasi WH 1 Peparnas Papua di Gor Cendrawasih, Jayapura, Papua, Sabtu (13/11/2021). (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI via redaksi nasional)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua resmi ditutup oleh Presiden Joko Widodo. Pesta olahraga difabel tingkat nasional tersebut untuk selanjutnya akan digelar di dua provinsi di Aceh dan Sumatera Utara pada 2024.

Peparnas merupakan ajang kompetisi bagi atlet penyandang difabel. Pekan Paralimpik Nasional ini dilaksanakan pada 2-13 November 2021. Pada ajang kali ini, tak kurang dari 1985 atlet dari 34 provinsi bersaing dalam 12 cabang olah raga dengan 602 nomor pertandingan di dua klaster yakni Kota dan Kabupaten Jayapura.

Provinsi teratas peraih medali dalam Peparnas XVI adalah tuan rumah Provinsi Papua sebagai pemegang juara umum. Papua berhasil mengoleksi 294 medali, yang terdiri dari 124 emas, 85 perak, dan 85 perunggu.

Pada dasarnya, esensi dari pelaksanaan Peparnas XVI bukan sekadar kontes olahraga semata, namun ajang ini juga merupakan suatu medium yang mengajak masyarakat untuk sama-sama merayakan keberagaman, dan menghormati kesetaraan sambil mengukirkan prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa dan negara.

"Melalui PON dan Peparnas Papua ini kita juga menunjukkan kebangkitan besar olahraga nasional kita. Kita juga merayakan keberagaman, kita juga menghormati kesetaraan dan bersama-sama kita meraih prestasi yang mengharumkan bangsa dan negara," ujar Presiden Joko Widodo dalam penutupan Peparnas XVI.

Pemecahan rekor

Bukan hanya perolehan medali, ratusan rekor nasional juga berhasil dipecahkan oleh sejumlah atlet dalam Peparnas XVI. Total 150 rekor baru pecah mulai dari rekor Peparnas, rekor Nasional, hingga rekor Asean Para Games.

Beberapa diantaranya dari cabang olahraga balap kursi roda melalui atlet DKI Jakarta Maria Goreti yang memecahkan rekor dengan waktu 4 menit 28.65 detik. Ada juga Zakaria, atlet lari Nusa Tenggara Barat yang memecahkan rekor 400 meter putra dengan catatan waktu 50,77 detik. Sedangkan pada kategori renang gaya dada putra, Gerry Pahker berhasil memecahkan rekor dengan catatan waktu 44,32 detik.

Rekor-rekor baru yang dipecahkan oleh atlet pada Peparnas XVI, membuktikan atlet difabel memiliki kualitas yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka mampu menunjukkan bahwa dalam kondisi kekurangan terdapat mentalitas pemenang yang kompetitif. Ratusan rekor yang dipecahkan dalam Peparnas XVI adalah bukti kuantitatif peningkatan kualitas atlet difabel di Indonesia.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Aceh dan Sumut menjadi Tempat Peparnas XVII 2024

Minggu, 14 November 2021 | 11:02 WIB
X