Hasto : Sumatera Barat Merupakan Pintu Gerbang Kemajuan Indonesia

- Minggu, 3 Juli 2022 | 22:17 WIB
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda UNP / gesuri.id
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda UNP / gesuri.id

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Padang. Sumatera Barat harus dibangun dengan cara pandang geopolitik yang bermuara terhadap ketahanan nasional di Sumatera Barat.

Keberadaan Sumbar sangat strategis untuk bersinergi dengan wilayah lainnya demi terciptanya ketahanan nasional. Koridor strategis Sumbar itu menyatu dengan konsepsi untuk menjadikan wilayah Sulawesi sebagai lumbung pangan Indonesia; Sumatera Pusat Perkebunan; Jawa sebagai pusat pendidikan, jasa, dan kekuatan TNI Angkatan Darat; Kalimantan sebagai Ibukota negara dan sekaligus pusat kekuatan Angkatan Udara; dan Indonesia Timur sebagai pusat kekuatan Angkatan Laut dan industri Maritim.

Oleh karena itu Sumatera Barat pernah dirancang sebagai pintu gerbang kemajuan Indonesia di Samudera Hindia.

Baca Juga: Hasto Kristiyanto : Penentu Capres dan Cawapres PDI Perjuangan adalah Ketua Umum

Pendapat itu disampaikan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam forum wisuda ke-127 Universitas Negeri Padang (UNP), Minggu, 3 Juli 2022.

“Atas model kepemimpinan ini, Soekarno membangun koridor strategis kemajuan nusantara. Sumatera Barat misalnya, dirancang sebagai pintu gerbang kemajuan Indonesia di Samudera Hindia. Sebab Soekarno mencita-citakan, bagaimana Indonesia hadir sebagai the major power di Samudera Hindia,” kata Hasto.

Dengan melihat potensi yang begitu besar di Sumatera Barat, lanjut Hasto, maka hegemoni kekuatan pertahanan Indonesia guna menjaga keamanan laut di Samudera Hindia menempatkan Sumatera Barat sebagai kawasan yang sangat penting dan strategis.

“Pertanyaannya, mengapa Soekarno membangun doktrin agar Indonesia menjadi negara terkuat di Kawasan Samudera Hindia? Hal tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan intelektual yang telah menjadi bagian kultur Minang, mengingat Pola Pembangunan Semesta Berencana dipimpin oleh Prof Moh Yamin,” urai Hasto.

Hasto lalu membeberkan bagaimana dalam peta geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, Samudera Hindia menjadi pusat pertarungan hegemoni negara-negara maju. AS membangun 13 pangkalan militer. Inggris, Australia, Malaysia dan Singapura membentuk aliansi pertahanan.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: gesuri.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X