Presiden Jokowi: Meski Kalah di WTO, Larangan Ekspor Bahan Nikel Terus Berlanjut

- Rabu, 30 November 2022 | 21:19 WIB
Presiden Joko Widodo larangan ekspor bahan nikel terus berlanjut (setkab.go.id)
Presiden Joko Widodo larangan ekspor bahan nikel terus berlanjut (setkab.go.id)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Jakarta. Indonesia kalah menghadapi gugatan Uni Eropa di WTO soal larangan ekspor bahan mentah nikel. Meski demikian, Presiden Jokowi menegaskan larangan bahan mentah nikel berlanjut terus. Kebijakan hilirisasi bahan-bahan tambang yang ada di tanah air tetap berjalan untuk mendapatkan nilai tambah yang berlipat.

Lebih dari itu Presiden Jokowi memastikan penghentian ekspor bahan mentah juga berlaku untuk tambang lainnya.

Sikapa tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi Tahun 2022 di The Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu 30 November 2022.

Baca Juga: BI Naikkan Suku Bunga Acuan Sebesar 5,25 Persen untuk Tekan Inflasi

“Ini sudah bolak-balik saya sampaikan, ini urusan nilai tambah yang ingin kita peroleh, yang ingin kita kejar dari hilirisasi, dari downstreaming itu. Enggak bisa lagi kita mengekspor dalam bentuk bahan mentah, mengekspor dalam bentuk raw material, sudah. Begitu kita dapatkan investasinya, ada yang bangun, bekerja sama dengan luar dengan dalam atau pusat dengan daerah, Jakarta dengan daerah, nilai tambah itu akan kita peroleh,” ujarnya.

Presiden Jokowi mencontohkan, beberapa tahun silam Indonesia masih mengekspor nikel dalam bentuk bahan mentah yang nilainya hanya mencapai 1,1 miliar dolar Amerika Serikat. Setelah adanya smelter di tanah air dan pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel, pada tahun 2021 ekspor nikel melompat 18 kali lipat menjadi 20,8 miliar dolar AS atau Rp300 triliun lebih.

Kebijakan yang ditempuh pemerintah tersebut menuai gugatan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kekalahan yang diterima di WTO, kata Presiden Jokowi, tidak menyurutkan langkah Indonesia untuk melanjutkan kebijakan hilirisasi bahan-bahan tambang lainnya seperti bauksit.

“Enggak apa-apa, kalah. Saya sampaikan ke menteri, banding. Nanti babak yang kedua, hilirisasi lagi, bauksit. Artinya, bahan mentah bauksit harus diolah di dalam negeri agar kita mendapatkan nilai tambah. Setelah itu, bahan-bahan yang lainnya, termasuk hal yang kecil-kecil, urusan kopi, usahakan jangan sampai diekspor dalam bentuk bahan mentah (raw material). Sudah beratus tahun kita mengekspor itu. Setop, cari investor. Investasi agar masuk ke sana, sehingga nilai tambahnya ada,” ujarnya.

Baca Juga: Ekspor Impor dalam Dua Tahun Terakhir, Neraca Perdagangan Indonesia Surplus

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: Setkab.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X