Ribuan Perkara di Kejagung Diselesaikan dengan Restorative Justice

- Rabu, 23 November 2022 | 17:12 WIB
Jaksa Agung, ST Burhanuddin. (Ist)
Jaksa Agung, ST Burhanuddin. (Ist)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Jakarta. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menerapkan pendekatan keadilan restoratif atau restorative justice untuk menangani ribuan perkara sejak tahun 2020.

Hal itu diungkapkan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dalam rapat bersama Komisi III DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 23 November 2022.

"Sejak dicanangkannya tahun 2020, Kejaksaan Agung telah melakukan penghentian penuntutan sebanyak 2.103 perkara," ujar ST Burhanuddin dalam rapat tersebut.

Lebih jauh ST Burhanuddin menjelaskan, pada 2020 setidaknya ada 230 perkara yang dilakukan restorative justice. Kemudian di tahun 2021 sebanyak 422 perkara dan tahun ini bahkan sudah mencapai 1.451 perkara.

Baca Juga: Tim Reaksi Cepat Salurkan Logistik ke Lokasi Bencana Gempa Cianjur

Tak hanya penerapan restorative justice, imbuh Burhanuddin, pihak Kejagung juga telah membentuk sebanyak 1.536 Rumah Restorative Justice (Rumah RJ) dan 73 balai rehabilitasi.

"Pada tahun 2020 sebanyak 230 perkara, 2021 sebanyak 422 perkara, 2022 sebanyak 1.451 perkara. Kejaksaan juga telah membentuk Rumah Restorative Justice sebanyak 1.536 serta 73 balai rehabilitasi di seluruh Indonesia," tukasnya.

Rapat Kerja itu dipimpin oleh Ketua Komisi III DPR Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul.

Sebagai informasi restorative justice adalah penyelesaian perkara hukum dengan mediasi antar pihak atau pola penggantian kerugian dari pelaku terhadap pihak yang dirugikan berdasarkan kesepakatan. Kemudian kasusnya dinyatakan selesai tanpa melalui pengadilan. ***

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: PMJ News

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X