Presiden Sukarno Menjadi Hero Bangsa Afrika. Terungkap Jasanya

- Senin, 6 Juni 2022 | 10:56 WIB
Hari Lahir Bung Karno 6 Juni, Berikut Profil dan Biodata Soekarno. ((Instagram/soekarno_hatta_1945))
Hari Lahir Bung Karno 6 Juni, Berikut Profil dan Biodata Soekarno. ((Instagram/soekarno_hatta_1945))

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Hari ini, Senin tanggal 6 Juni 2022. Bangsa Indonesia selalu mengenang 6 Juni sebagai kelahiran Presiden Sukarno yang lahir tahun 1901 saat fajar tiba. Popularitas presiden pertama Indonesia itu masih luas dalam masyarakat Indonesia bahkan hingga bangsa Afrika. 

Dikisahkan, era 1960-an, lantaran rusak, kapal yang membawa pulang jamaah haji dari Mekah singgah di Afrika Selatan. Asrul Sani dan beberapa orang turun dari kapal. Ketika hendak menikmati kota pelabuhan itu, langkah mereka dihadang petugas imigrasi Afsel. Kare na tanpa paspor, mereka digiring ke kantor imigrasi. Semula wajah petugas imigrasi garang. Namun, begitu tahu bahwa Asrul Sani dan kawan-kawan adalah warga Indonesia, wajah para petugas berubah ramah. Bahkan mereka memberikan perlakuan istimewa.

Baca Juga: Kongres IV Persatuan Alumni (PA) GMNI Gelorakan Trisakti Bung Karno

Hal itu tidak lepas dari nama Sukarno. Di mata warga Afsel, Sukarno adalah sosok yang turut berjasa dalam kemerdekaannya. Ajaran antiimperalis dan kolonialis yang disuarakan Sukarno tak hanya bergaung di dalam negeri , juga bergema hingga ke berbagai pelosok negara yang masih terjajah. Melalui konferensi Asia Afrika yang diprakarsainya, gagasan Bung karno yang antipenjajahan menginspirasi beberapa begara untuk memerdekakan diri. Gasasan antipenjajahnya mampu mendorong bangsa-bangsa yang terjajah segera mencapai kemerdekaannya.

Wajar saja, Sukarno dikagumi bangsa Asia Afrika. Tapi pengaruhnya yang besar itu pula yang memicu konflik dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara maju di Eropa. Selain memprakarsai KAA yang melahirkan Gerakan Nonblok, Sukarno juga memprakarsai berdirinya Nefo. Nefo menitikberatkan kerjasama antara Indonesia dengan Uni Soviet dan RRC untuk mewujudkan dunia baru yang dilandasi kerjasasama yang saling menguntungkan.
Untuk membangun negara Sukarno meminimalisir bantuan dengan AS beserta Sekutunya. Pasalnya kerja sama yang disponsori AS berpotensi merugikan Indonesia. Dengan konsep berdikari, Presiden Sukarno menumpuhkan pembangunan dengan kekuatan sendiri dengan sokongan RRC dan uni Soviet yang saat itu dirasa lebih menguntungkan.

Musium Peringatan KAA ke-67. (Dok/Humas Bandung)

AS beserta sekutu melihat Gerakan Nonblok dan Nefo bakal menjadi kekuatan baru yang mengancam hegemoninya. Maka disusunlah skenario untuk menjatuhkan Presiden Sukarno. Skenario pertama yang membenturkan pemerintahan Sukarno dengan kelompok Permesta/ PRRI gagal. Namun skenario kedua, 100 % berhasil. Meminjam tangan Suharto, AS berhasil meruntuhkan pemerintahan Presiden Sukarno. Lalu lahirlah pemerintahan Orde baru di bawah kontrol Suharto yang otoriter.

Baca Juga: Presiden Korsel Meminta Megawati Jadi Utusan Khusus untuk Korut. Ini Alasannya

Selama pemerintahan orde baru berlangsung, ajaran Sukarno dihilangkan dari masyarakat bahkan dijadikan “momok” yang berbahaya. Sepanjang 32 tahun, segala sesuatu yang berbau Sukarno dibabat habis. Meski demikian, tindakan represif itu tak mampu menghilangkan popularitas Bung Karno beserta ajarannya dalam masyarakat luas. Terbukti, pascalengsernya Suharto, pada tahun 1998, bermunculan partai-partai politik yang mengatasnamakan ajaran Sukarno. Bahkan dalam pilpres 2014, Sukarno menjadi "jualan" Prabowo Subianto untuk mendapatkan suara dari kalangan nasionalis.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X