Bisnis Prostitusi Berkedok Panti Pijat Dibongkar Polda Banten

- Jumat, 3 Desember 2021 | 17:43 WIB
Ilustrasi - 3 pengelola prostitusi berkedok panti pijat diringkus Polda Banten di sebuah Ruko Citra Raya, Tangerang. Beberapa saksi diperiksan polisi.  (Pixabay/andreas160578)
Ilustrasi - 3 pengelola prostitusi berkedok panti pijat diringkus Polda Banten di sebuah Ruko Citra Raya, Tangerang. Beberapa saksi diperiksan polisi. (Pixabay/andreas160578)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Tangerang. Polda Banten mengungkap kasus tindak prostitusi yang berkedok panti pijat di sebuah Ruko Citra Raya, Tangerang.

Ketika melakukan penggeledahan ke lokasi, polisi menemukan sejumlah perempuan yang memberikan jasa terapis, kemudian beberapa tamu dan juga pengelola panti pijat.

Lebih lanjut, mereka dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Hasilnya terungkap fakta bahwa tempat itu menjalankan usaha prostitusi. Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga.

"Berdasarkan informasi masyarakat ini, Ditreskrimum Polda Banten melakukan rangkaian penyelidikan dan menemukan adanya kesesuaian informasi dengan fakta-fakta di lapangan, sehingga pada 1 Desember 2021 melakukan upaya represif di tempat panti pijat tersebut," ujar Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Desember 2021.

Dikitip dari Pikiran-Rakyat.com yang berjudul Polda Banten Ringkus 3 Pengelola Prostitusi Berkedok Panti Pijat, Shinto meyebutkan tiga orang pengelola panti pijat memenuhi unsur untuk dijadikan tersangka.

Fakta itu terungkap setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap total 8 saksi termasuk pengelola panti pijat dan melakukan gelar perkara. Kemudian sebanyak tiga orang pengelola ditetapkan sebagai tersangka.

"Hasil gelar perkara kami menetapkan 3 orang pengelola sebagai tersangka yaitu AW (35), RW (32) dan TF (25)," tutur Shinto.

Dia menjelaskan, AW dan RW adalah pasangan suami istri yang memiliki dan mengelola tempat usaha, sedangkan TF merupakan karyawan pada tempat usaha tersebut yang berperan mencari tamu dan menyambungkan dengan terapis dengan imbalan komisi.

"Motifnya yaitu mencari keuntungan, dari para terapis dengan meminta uang kamar Rp100.000 per jam yang dikenakan dari tarif pelayanan tiap tamu oleh therapist sebesar Rp300.000-Rp500.000," ucapnya.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Terkini

X