Arti Bulan Safar dan Memaknainya di Tengah Era Digital. Simak Kajiannya

- Jumat, 2 September 2022 | 09:56 WIB
Memaknai bulan safar (pexels/David McEachan)
Memaknai bulan safar (pexels/David McEachan)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Tak terasa kita telah meninggalkan bulan Muharram 1444 H, kemudian kita sudah memasuki bulan Safar. Bagaimana kita memaknai bulan Safar di era digital saat ini ? Apa saja yang perlu dilakukan umat Islam dalam menjalani bulan tersebut. Untuk mengkajinya berikut ini disajikan ulasan seputar bulan Safar yang dilansir dari laman NU Online tulisan Ahmad Muntaha AM.

Sekarang kita telah masuk bulan Safar yang memiliki arti kosong. Disebut Safar karena dahulu pada bulan ini orang-orang Arab mengumpulkan makanan dari berbagai tempat, sehingga tempat itu kosong dari makanan. Adapula yang mengatakan, disebut Safar karena dahulu pada bulan ini kota Mekkah menjadi kosong ditinggalkan bepergian oleh penduduknya.

Ada juga yang mengatakan, karena dahulu pada bulan ini orang Mekkah memerangi suku-suku di sekitarnya dan mereka membiarkan orang-orang yang mereka temui dalam kondisi kosong tak punya harta. Demikian dijelaskan oleh Imam Murtadha az-Zabidi dalam kitab Tajul ‘Arusy juz XII halaman 330.

Baca Juga: Hadits Nabi Muhammad Saw Tentang Cinta Tanah Air. Simak Ulasannya

Lalu inspirasi apa yang dapat kita ambil dari bulan Safar yang bermakna kosong ini? Tentu, bulan Safar yang bermakna kosong ini jangan sampai hanya lewat saja. Jangan sampai bulan Safar ini kita kosong dari amal kebaikan. Kebaikan yang bersifat ibadah ritual kepada Allah swt maupun ibadah sosial kepada sesama manusia dan seluruh alam. Nabi Muhammad saw sendiri bersabda:

إِنَّ أَصْفَرَ البُيُوتِ من الخَيْرِ البَيْتُ الصِّفْرُ من كتابِ اللَّهِ

Artinya, “Sungguh rumah yang paling kosong dari kebaikan adalah rumah yang kosong dari bacaan kitabullah Al-Qur’an.” (HR at-Thabarani)

Selain itu, bagi orang yang merasa sudah banyak amal kebaikannya, juga jangan sampai lengah dan kelak di akhirat justru menjadi orang yang kosong tanpa amal, karena tidak diterima di sisi Allah. Terlebih di era kemajuan teknologi informasi ini, yang memanjakan manusia untuk memamerkan segala amal kebaikannya di berbagai platform media sosial, di status WhatsApp, Facebook, Instagram, Youtube, TikTok dan selainnya.

Bisa jadi amal kebaikan yang telah dilakukan, karena dipamer-pamerkan, justru menjadi amal kosong yang tidak diterima Allah swt. Karena itu, sebenarnya tidak elok menampakkan amal kebaikan kecuali bagi orang-orang khusus yang sudah mampu mengendalikan hawa nafsu, seperti para ulama, wali, dan orang-orang saleh lainnya.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: NU Online

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X