Makna yang Terkandung dalam Ritual Ibadah Haji. Simak Ulasannya

- Sabtu, 9 Juli 2022 | 20:45 WIB
Ilustrasi ibadah haji di Tanah Suci. (Foto: dok Kemenag)
Ilustrasi ibadah haji di Tanah Suci. (Foto: dok Kemenag)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Kolom. Saat ini sekitar 1 juta orang Islam dari seluruh dunia tengah menunaikan ibadah haji di Mekkah. Mereka menjalani sejumlah ritual selama ibadah haji seperti thawaf, melempar jumrah, lari-lari. Berdasarkan berbagai sumber ritual tersebut mengandung makna mendalam yang bisa menjadi pelajaran hidup.

Pertama, thawaf (mengelilingi ka’bah) sebanyak tujuh kali dilakukan bersama-sama. Ini mengajarkan betapa pentingnya manusia untuk berinteraksi sosial dalam bingkai mendekati Allah. Seseorang belum dianggap baik (sempurna) jika tidak berbaur dengan masyarakat. Untuk itu sikap mau menang sendiri, egois harus ditinggalkan.

Sikap berbaur terwujud dalam sikap saling menyantuni fakir miskin, tolong menolong, dan peka terhadap penderitaan orang lain. Ibadah bukan monopoli manusia dengan Allah saja, melainkan juga lewat interaksi sosial. Hal ini bersandar pada ajaran Islam yang memerintahkan pemeluknya untuk senantiasa memperhatikan kehidupan sosial (Al-Haddad:10-11).

Sangat ironis jika seseorang yang tekun sholat, dzikir, sementara ia mengabaikan penderitaan orang lain, lebih-lebih apatis dengan kaum dhuafa. Allah mencela orang yang tekun ibadah tapi egois dengan kesengsaraan saudaranya.

Baca Juga: Makna di Balik Ibadah Kurban dalam Hari Raya Idul Adha. Simak Selengkapnya

Kedua, melempar jumroh. Makna dari melempar jumroh sebanyak tiga kali mengajarkan manusia untuk berjihad melawan musuh yang berupa nafsu harta, nafsu tahta, dan kemunafikan.

Manusia yang rakus akan harta ditamsilkan sebagai Qorun. Dia tidak mau sedikitpun menyisihkan di jalan Allah. Kalaupun dia beramal lebih didorong niat agar dipuji manusia, atau bersifat politis guna menarik dukungan masyarakat. Usahanya untuk menambah harta tak segan dia lakukan dengan curang. Padahal harta yang melimpah itu jika ditimpa bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami tak mampu menyelamatkan dirinya.

Musuh selanjutnya adalah nafsu tahta. Tak jarang kekuasaan yang dilakukan dengan semena-mena mengundang azab Allah seperti yang dialami Fir’aun. Oleh karena itu hendaknya manusia tidak berambisi mengejar dan mempertahankan kekuasaan dengan penindasan. Tapi jika memperoleh kekuasaan, hendaknya dijalankan penuh tanggung jawab.

Musuh berikutnya yakni menunafikan. Masyarakat akan hancur bila disusupi orang yang munafik. Kehancuran suatu masyarakat mudah terjadi jika kemunafikan dilakoni para elit dan para pejabat. Dampak lebih besarnya seiring hancurnya masyarakat, agamapun menjadi rusak ketika terdapat pemeluknya yang munafik. Sikap munafik antara lain hianat atas amanat yang didapat, dan melenceng dari apa yang diyakini. Contohnya korupsi. Dia tahu korupsi dipahami sebagai tindak kejahatan yang bertentangan dengan agama, tetapi tetap dilakukannya. Itulah orang yang munafik. Ironisnya dia berpenampilan sebagai orang alim, sholeh, tapi rakus dengan uang korupsi.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X