Di Austria, Warga belum mau Vaksin didenda Jutaan, Ini Aturannya

- Senin, 15 November 2021 | 21:02 WIB
Ilustrasi lockdown - Pemerintah Austria memberlakukan penguncian nasional hanya untuk mereka yang belum divaksin, demi mencegah penyebaran Covid-19.  (doctor-a)
Ilustrasi lockdown - Pemerintah Austria memberlakukan penguncian nasional hanya untuk mereka yang belum divaksin, demi mencegah penyebaran Covid-19. (doctor-a)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Wina. Austria memberlakukan lockdown terhadap warganya yang belum mau divaksin. Lockdown itu membatasi secara ketat aktivitas warganya yang belum mendapat vaksin mulai Senin, 15 November 2021.

Mereka hanya dapat meninggalkan rumah mereka untuk bekerja, belajar, memenuhi kebutuhan medis, membeli bahan makanan, atau mencari udara segar. Selebihnya mereka tidak boleh beraktivitas di luar.

Ada Larangan keras bagi mereka untuk memasuki pusat keramaian seperti toko, mall, bioskop.

Jika mereka (warga yang belum vaksin) tertangkap melanggar larangan memasuki tempat-tempat seperti toko ritel atau bioskop akan dikenakan denda mulai dari sekitar 500 euro ($572) atau sekitar Rp 8 juta.

Pengetatan itu diberlakukan karena tingkat Vaksinasi di Austria yang sangat rendah. Hal itu dikemukakan Kanselir Austria Alexander Schallenberg pada konferensi pers di Wina.

"Kami tidak mengambil langkah ini dengan enteng. Tapi sayangnya itu perlu," ungkap Schallenberg.

Bukan warga yang belum vaksin saja yang dihantui denda. Badan Usaha atau bisnis pun dibayangi ancaman denda hingga 3.000 atau setara sekitar Rp 42 juta jika melanggar aturan pembatasan.

Begitu juga Kelompok-kelompok orang yang secara bersama-sama melakukan pelanggaran peraturan pembatasan akan dikenakan biaya 30.000 euro atau setara Rp 420 juta.

Untuk efektifivas pemberlakuan peraturan pembatasan, Kementerian Dalam Negeri Austria mengatakan, Pemerintah Austria akan mengerahkan kepolisian untuk memeriksa setiap warga yang ke luar rumah Setiap warga yang keluar rumah selain yang dikecualikan harus membawa bukti vaksin.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X