Udara berpolusi Tinggi mengandung Racun Selimuti New Delhi India

- Sabtu, 6 November 2021 | 20:03 WIB
Kondisi udara di India masih tinggi tingkat polusi yang beracun setelah warga nyalakan kembang api selama festival dan pembakaran jerami. ( REUTERS/Anushree Fadnavis)
Kondisi udara di India masih tinggi tingkat polusi yang beracun setelah warga nyalakan kembang api selama festival dan pembakaran jerami. ( REUTERS/Anushree Fadnavis)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-India. Polusi udara di New Delhi,India sangat pekat. Kepekatannya menyebabkan udara di kota itu mengandung racun yang tidak baik bagi tubuh manusia. Begitu pekatnya udara yang terpolusi itu menjadikan kota New Delhi seolah terselimuti kabut pada Sabtu, 6 November 2021.

Berdasarkan Indeks Kualitas Udara (AQI), polusi udara di New Delhi berada di 456 pada skala 500.Indek itu menunjukkan kondisi polusi yang parah yang menimbulkan dampak serius bagi mereka yang berpenyakit.

Perlu diketahui AQI mengukur konsentrasi partikel beracun PM2.5. Jika sampai angka iti maka polusi udara dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan seperti kanker paru-paru, dalam satu meter kubik udara.

Terjadinya polusi udara yang pekat di New Delhi disebabkan pesta kembang api selama festival besar Hindu. Sebenarnya pesta kembang api dilarang oleh pemerintah. Namun larangan itu diabaikan. Selama festival itu Orang-orang yang bersuka ria membakar kembang api. Ditambah lagi para petani di negara bagian terdekat India membakar jerami, menambah tinggi tingkat polusi.

Dikutip dari Pikiran-Rakyat.com bersumber Reuters yang berjudul Warga di Delhi India Terjebak dalam Tingginya Tingkat Polusi Beracun Usai Festival, banyak warga yang mengeluhkan polusi itu

Di media sosial, beberapa warga India mengeluhkan akan kondisi polusi berbahaya di Delhi, terburuk di dunia, dengan lonjakan tahunan yang sering terjadi awal musim dingin.

"Polusi di Delhi membuat sangat sulit untuk tinggal di kota ini. Atau setidaknya tinggal di sini terlalu lama," kata warga Pratyush Singh di Twitter.

"Kami menghirup asap setiap hari. Media akan membicarakannya," sambungnya, dilansir Pikiran-Rakyat.com dari Reuters.
Dia menyatakan para pemimpin akan berkoar kalau mereka berusaha memperbaiki kondisi.

Akan tetapi, kemudian polusi yang menyesakkan itu menghilang seiring musim dan kembali tahun depan.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Terkini

X