Presiden Jokowi : Pemerintah Subsidi BBM Hingga Rp 502 Triliun. Ini Penyebabnya

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 19:48 WIB
stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Sodong (Asep)
stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Sodong (Asep)

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Jakarta. Pemerintah Indonesai telah menggelondorkan dana hingga Rp 502 triliun untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat. Padahal waktu sebelumnya, pemerintah hanya keluar Rp 170 an triliun untuk subsidi BBM. Situasi itu dipicu oleh pandemi COVID-19 dan perang di Ukraina yang timbulkan ketidakpastian dan krisis energi maupun pangan.

Hal itu diungkapkan Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara acara Zikir dan Doa Kebangsaan 77 Tahun Indonesia Merdeka, yang digelar di Halaman Depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 1 Agustus 2022.

Baca Juga: ACT Selewengkan Uang Donasi Boeing Hingga 30 Persen. Ini Bukti Formilnya

“Kita patut bersyukur, alhamdulillah kalau bensin di negara lain sekarang harganya sudah Rp32.000, Rp31.000, di Indonesia pertalite masih Rp7.650. Tapi juga perlu kita ingat subsidi terhadap BBM itu sudah sangat terlalu besar, dari Rp170-an (triliun) sekarang sudah Rp502 triliun,” ujar Presiden Jokowi.

Mengawali paparan soal subsidi BBM Jokowi menuturkan bahwa hampir semua negera mengalami kesulitan energi dan pangan.

“Muncul krisis pangan, krisis energi, juga sama. Di semua negara gas sampai harganya lima kali lipat, bensin naik dua kali lipat. Inilah kesulitan-kesulitan yang dialami oleh hampir semua negara, tidak negara kecil, tidak negara besar, tidak negara kaya, tidak negara miskin, semuanya mengalami hal yang sama. Sehingga muncul krisis yang ketiga, yaitu krisis keuangan," ujar Jokowi.

Lalu Jokowi menyebut beberapa negara yang tidak kuat mengalami kebangkrutan ekonomi karena tidak memiliki uang untuk membeli energi (bensin dan gas) atau membeli pangan.

Lebih lanjut Jokowi menjelaskan bahwa konflik Rusia dan Ukraina telah memicu lonjakan harga komoditas pangan akibat tersendatnya pasokan dari dua negara produsen gandum tersebut.

“Ukraina plus Rusia jumlah stok gandumnya ada 207 juta ton. Inilah yang sekarang ini menyebabkan 330 juta orang kelaparan. Dan mungkin enam bulan lagi bisa 800 juta orang akan kelaparan dan kekurangan makan akut karena tidak ada yang dimakan,” paparnya.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Sumber: Setkab.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X