Paradoks Perempuan Cerdas: Kritik Film Lucy dan The Witch. Simak Analisanya

- Senin, 25 Juli 2022 | 21:11 WIB
Rahmat Patuguran / you tube
Rahmat Patuguran / you tube

SUARA MERDEKA PEKALONGAN-Kolom. Ada dua perempuan super cerdas dalam dua film berbeda yang saya tonton.

Dulu saya nonton Lucy (diperankan Scarlet Johanson). Film ini mengisahkan perempuan yang mampu menggunakan hampir 100 persen kapasitas otaknya.

Berkat kemampuan ini Lucy bisa memanipulasi material apa pun. Bukan hanya mengubah bentuk-bentuk benda, dia bahkan bisa meleburkan diri dalam sistem internet global untuk mengendalikan sistem keuangan dunia.

Baca Juga: Mengapa Masyarakat Kita Suka Meledek Etnis Lain? Simak Analisanya

Nah, baru-baru ini saya nonton The Witch, film Korea garapan Park Hoon-jung.

Film ini mengisahkan petualangan gadis super cerdas hasil rekayasa biologis. Setelah menyamar jadi orang biasa selama belasan tahun, dia harus membongkar identitas dirinya sebagai manusia super karena terancam akan segera mati.

Dua film itu menempatkan lakon perempuan sebagai manusia super cerdas.

Sekilas, narasi itu tampak seperti dukungan terhadap perempuan. Perempuan ditempatkan pada posisi superior: kuat, cerdas, dan unggul dari pesaing sekaligus kawan lamanya, laki-laki.

Tapi - hemat saya - narasi dalam film-film itu justru mengandung paradoks. Penggambaran perempuan dalam posisi superior dalam narasi justru berangkat dari pikiran yang memosisikan perempuan secara inferior.

Halaman:

Editor: Haryoto Bramantyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X